[caption id="attachment_137" align="alignleft" width="300"]
Pingsan saat Upacara[/caption]
Semaput lagi... Pingsan lagi....., mungkin pikiran itu pernah terlintas dibenak kalian ketika melihat salah satu teman kalian tiba-tiba pingsan saat mengikuti upacara. Karena lebay kah? Bisa jadi, tapi bisa juga karena memang secara fisiologis, aliran darahnya tidak normal.
Pingsan sering terjadi karena kecenderungan terkumpulnya sebagian darah dalam pembuluh vena bawah akibat gravitasi bumi. Hal ini menyebabkan jumlah darah yang kembali ke jantung berkurang sehingga kapasitas darah ke jantung dan tekanan darah sistoliknya menurun. adanya proses ini maka dalam tubuh kita secara otomatis akan mengatasi penurunan tersebut, dalam hal ini otomatis timbul refeks kompensasi normal, berupa bertambahnya frekuensi dan kekuatan kontraksi jantung, dengan tujuan mengembalikan kapasitas darah ke jantung ke tingkat semula.
Pada seseorang yang berdiri lama terlebih seseorang yang hipersensitif (ditambah sugesti), bertambahnya kekuatan kontraksi itu justru mengaktifkan reseptor mekanik pada dinding bilik jantung kiri, sehingga timbul refeks yang menyebabkan frekuensi detak jantung menjadi lambat, pembuluh darah tepi melebar, dan terjadi tekanan darah rendah (hipotensi) sehingga aliran darah ke susunan saraf terganggu. Proses inilah yang menyebabkan seseorang bisa pingsan.
Sebenarnya peristiwa pingsan pada saat terlalu banyak berdiri sesungguhnya merupakan suatu mekanisme perlindungan diri sendiri yang sangat baik. Lho Koq? Pada saat pingsan peredaran darah akan kembali normal setelah diposisikan tertidur, karena kedudukan jantung dan kaki sama tinggi sehingga darah vena kembali ke jantung (Kimbal: 513).
Gangguan lain yang muncul dalam sistem transportasi manusia yang sering terjadi dan harus diwaspadai adalah tekanan darah yang melebihi ambang batas normal (120/80) atau yang biasa disebut dengan hipertensi. Hipertensi umumnya dialami oleh orang dewasa/orang tua (di atas 40 tahun).
Ketika tekanan darah terlalu tinggi, akan menimbulkan beban kerja jantung dan dapat menyebabkan kerusakan serius pada arteri (nadi). Seiring waktu, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol meningkatkan resiko penyakit jantung, stroke, dan penyakit ginjal. Tekanan darah tiggi juga sering tak terdeteksi sejak dari luar selama bertahun-tahu dan penderita tidak menyadari bahwa mereka menderita peyakit tersebut. Tak jarang seorang penderita hipertensi dapat meninggal secara mendadak. Oleh sebab itu penyakit ini dapat juga disebut degan sillent killer.
Hipertensi diam-diam dapat merusak jantung, paru-paru, pembuluh darah, otak dan ginjal jika tidak terobati. Hipertensi adalah faktor resiko utama stroke dan serangan jatung. Pembacaan tekanan darah yang normal akan berada pada 120/80, sementara hasil yang lebih tinggi dan sering terjadi (terus-menerus) dapat menunjukkan hipertensi. Dalam kebayakan kasus, penyebab hipertensi
banyak yang belum terdeteksi. Angka yang di atas (120) menunjukkan tekanan saat jantung berdebar atau disebut juga dengan sistolik, sementara angka yang di bawah (80) menunjukkan tekanan saat istirahat antara detak jantung atau disebut juga diastol. Ketika jantung diisi ulang dengan darah.
Kadang-kadang ginjal atau penyakit adrenal dapat menyebabkan hipertensi. Orang yag memiliki tekanan darah secara konsisten tepat di atas tingkat normal –jatuh di antara 120-139 untuk tekanan sistolik atau 80-89 untuk tekanan diastolik, memiliki dua kali resiko penyakit jantung dibandingkan dengan pembacaan yang lebih rendah.
Zona bahaya hipertensi jika pembacaan rata-rata 140/90 atau lebih tinggi-meskipun masih mungkin tidak memiliki gejala. Pada 180/110 dan lebih tinggi seseorang mungkin mengalami krisis hipertensi. Krisis hipertensi ini dapat menyebabkan stroke, serangan jantung, kerusakan ginjal, atau kehilangan kesadaran.
Gejala krisis hipertensi dapat mencakup sakit kepala, kecemasan parah, mimisan, dan sesak napas.
Mengalami kelebihan berat badan memberi beban pada jantung untuk meningkatkan resiko tekanan darah tinggi. Itulah sebabnya diet yang bertujuan untuk menurunkan tekanan darah seringkali juga dirancang untuk mengontrol kalori. Biasanya diet mengurangi makanan berlemak dan menambahkan gula, sambil meningkatkan buah-buahan, sayuran, serat dan protein tanpa lemak. Ternyata, kehilangan 5 kg berat badan dapat membuat suatu perbedaan.
Hipertensi juga mungkin terjadi pada seorang ibu hamil saat trimester kedua dari kehamilannya. Tanpa penanganan yang tepat, hal tersebut dapat membatasi aliran darah dan oksigen ke bayi dan otak dan kemungkinan menyebabkan kondisi yang serius yang disebut preeklamsia yang
membahayakan ibu dan bayi. Namun apabila penanganannya tepat, setelah bayi lahir tekanan darah ibu biasanya akan kembali normal.

Nikotin yang terkandung pada rokok berkontribusi sangat besar terhadap munculnya hipertensi.
Pada awalnya, nikotin menyebabkan tubuh melepaskan adrenalin.
Adrenalin menyebabkan denyut jantung dan tekanan darah meningkat serta merangsang tubuh melepaskan insulin.
Pelepasan insulin membuat tubuh mengira terdapat kelebihan glukosa dalam darah. Itu sebab, perokok sering melaporkan terjadinya penurunan nafsu makan.
Asap rokok yang dihirup juga memiliki efek negatif pada tubuh: Karbon monoksida pada asap rokok berpotensi merusak paru-paru dan dinding arteri, sehingga meningkatkan potensi serangan jantung, stroke, dan pembekuan darah.
Obat demam dan flu yang mengandung dekongestan adalah salah satu dari beberapa kelas obat yang dapat menyebabkan tekanan darah meningkat. Lainnya termasuk penghilang rasa sakit NSAID, steroid, pil diet, pil KB, dan beberapa anti depresan.
Stress juga dapat membuat lonjakan tekanan darah. Hal demikian dikarenakan pada saat stress kemungkinan seseorang untuk melakukan kebiasaan tidak sehat, seperti pola makan yang buruk, penggunaan alkohol, atau merokok, yang dapat berkontribusi terhadap tekanan darah tinggi dan penyakit jantung.
Lalu, benarkah garam dapat memicu hipertensi?
Orang yang memiliki gen sensitif/peka garam, hanya setengah sendok teh garam dapat meningkatkan tekanan darah sekitar 5 mmHg. Natrium, komponen utama garam dapat meningkatkan tekanan darah karena menyebabkan cairan daran menjadi lebih pekat. Keadaan tersebut membuat tubuh menahan cairan yang mengakibatkan beban jantung menjadi lebih besar.
The American Heart Assosiation merekomendasikan mengkonsumsi garam kurang dari 1.500 mg per hari. Oleh karena itu, setiap membeli makanan kemasan juga perlu untuk memerisa label makanan dengan hati-hati.
dari berbagai sumber

Semaput lagi... Pingsan lagi....., mungkin pikiran itu pernah terlintas dibenak kalian ketika melihat salah satu teman kalian tiba-tiba pingsan saat mengikuti upacara. Karena lebay kah? Bisa jadi, tapi bisa juga karena memang secara fisiologis, aliran darahnya tidak normal.
Pingsan sering terjadi karena kecenderungan terkumpulnya sebagian darah dalam pembuluh vena bawah akibat gravitasi bumi. Hal ini menyebabkan jumlah darah yang kembali ke jantung berkurang sehingga kapasitas darah ke jantung dan tekanan darah sistoliknya menurun. adanya proses ini maka dalam tubuh kita secara otomatis akan mengatasi penurunan tersebut, dalam hal ini otomatis timbul refeks kompensasi normal, berupa bertambahnya frekuensi dan kekuatan kontraksi jantung, dengan tujuan mengembalikan kapasitas darah ke jantung ke tingkat semula.
Pada seseorang yang berdiri lama terlebih seseorang yang hipersensitif (ditambah sugesti), bertambahnya kekuatan kontraksi itu justru mengaktifkan reseptor mekanik pada dinding bilik jantung kiri, sehingga timbul refeks yang menyebabkan frekuensi detak jantung menjadi lambat, pembuluh darah tepi melebar, dan terjadi tekanan darah rendah (hipotensi) sehingga aliran darah ke susunan saraf terganggu. Proses inilah yang menyebabkan seseorang bisa pingsan.
Sebenarnya peristiwa pingsan pada saat terlalu banyak berdiri sesungguhnya merupakan suatu mekanisme perlindungan diri sendiri yang sangat baik. Lho Koq? Pada saat pingsan peredaran darah akan kembali normal setelah diposisikan tertidur, karena kedudukan jantung dan kaki sama tinggi sehingga darah vena kembali ke jantung (Kimbal: 513).
Gangguan lain yang muncul dalam sistem transportasi manusia yang sering terjadi dan harus diwaspadai adalah tekanan darah yang melebihi ambang batas normal (120/80) atau yang biasa disebut dengan hipertensi. Hipertensi umumnya dialami oleh orang dewasa/orang tua (di atas 40 tahun).
Ketika tekanan darah terlalu tinggi, akan menimbulkan beban kerja jantung dan dapat menyebabkan kerusakan serius pada arteri (nadi). Seiring waktu, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol meningkatkan resiko penyakit jantung, stroke, dan penyakit ginjal. Tekanan darah tiggi juga sering tak terdeteksi sejak dari luar selama bertahun-tahu dan penderita tidak menyadari bahwa mereka menderita peyakit tersebut. Tak jarang seorang penderita hipertensi dapat meninggal secara mendadak. Oleh sebab itu penyakit ini dapat juga disebut degan sillent killer.

banyak yang belum terdeteksi. Angka yang di atas (120) menunjukkan tekanan saat jantung berdebar atau disebut juga dengan sistolik, sementara angka yang di bawah (80) menunjukkan tekanan saat istirahat antara detak jantung atau disebut juga diastol. Ketika jantung diisi ulang dengan darah.
Kadang-kadang ginjal atau penyakit adrenal dapat menyebabkan hipertensi. Orang yag memiliki tekanan darah secara konsisten tepat di atas tingkat normal –jatuh di antara 120-139 untuk tekanan sistolik atau 80-89 untuk tekanan diastolik, memiliki dua kali resiko penyakit jantung dibandingkan dengan pembacaan yang lebih rendah.
Zona bahaya hipertensi jika pembacaan rata-rata 140/90 atau lebih tinggi-meskipun masih mungkin tidak memiliki gejala. Pada 180/110 dan lebih tinggi seseorang mungkin mengalami krisis hipertensi. Krisis hipertensi ini dapat menyebabkan stroke, serangan jantung, kerusakan ginjal, atau kehilangan kesadaran.

Gejala krisis hipertensi dapat mencakup sakit kepala, kecemasan parah, mimisan, dan sesak napas.
Mengalami kelebihan berat badan memberi beban pada jantung untuk meningkatkan resiko tekanan darah tinggi. Itulah sebabnya diet yang bertujuan untuk menurunkan tekanan darah seringkali juga dirancang untuk mengontrol kalori. Biasanya diet mengurangi makanan berlemak dan menambahkan gula, sambil meningkatkan buah-buahan, sayuran, serat dan protein tanpa lemak. Ternyata, kehilangan 5 kg berat badan dapat membuat suatu perbedaan.
Hipertensi juga mungkin terjadi pada seorang ibu hamil saat trimester kedua dari kehamilannya. Tanpa penanganan yang tepat, hal tersebut dapat membatasi aliran darah dan oksigen ke bayi dan otak dan kemungkinan menyebabkan kondisi yang serius yang disebut preeklamsia yang
membahayakan ibu dan bayi. Namun apabila penanganannya tepat, setelah bayi lahir tekanan darah ibu biasanya akan kembali normal.

Nikotin yang terkandung pada rokok berkontribusi sangat besar terhadap munculnya hipertensi.
Pada awalnya, nikotin menyebabkan tubuh melepaskan adrenalin.
Adrenalin menyebabkan denyut jantung dan tekanan darah meningkat serta merangsang tubuh melepaskan insulin.
Pelepasan insulin membuat tubuh mengira terdapat kelebihan glukosa dalam darah. Itu sebab, perokok sering melaporkan terjadinya penurunan nafsu makan.
Asap rokok yang dihirup juga memiliki efek negatif pada tubuh: Karbon monoksida pada asap rokok berpotensi merusak paru-paru dan dinding arteri, sehingga meningkatkan potensi serangan jantung, stroke, dan pembekuan darah.
Obat demam dan flu yang mengandung dekongestan adalah salah satu dari beberapa kelas obat yang dapat menyebabkan tekanan darah meningkat. Lainnya termasuk penghilang rasa sakit NSAID, steroid, pil diet, pil KB, dan beberapa anti depresan.
Stress juga dapat membuat lonjakan tekanan darah. Hal demikian dikarenakan pada saat stress kemungkinan seseorang untuk melakukan kebiasaan tidak sehat, seperti pola makan yang buruk, penggunaan alkohol, atau merokok, yang dapat berkontribusi terhadap tekanan darah tinggi dan penyakit jantung.
Lalu, benarkah garam dapat memicu hipertensi?
Orang yang memiliki gen sensitif/peka garam, hanya setengah sendok teh garam dapat meningkatkan tekanan darah sekitar 5 mmHg. Natrium, komponen utama garam dapat meningkatkan tekanan darah karena menyebabkan cairan daran menjadi lebih pekat. Keadaan tersebut membuat tubuh menahan cairan yang mengakibatkan beban jantung menjadi lebih besar.
The American Heart Assosiation merekomendasikan mengkonsumsi garam kurang dari 1.500 mg per hari. Oleh karena itu, setiap membeli makanan kemasan juga perlu untuk memerisa label makanan dengan hati-hati.
dari berbagai sumber
Komentar
Posting Komentar